Moderenisasi Pendidikan Islam
kemoderenan dapat saja direpresentasikan sebagai sesuatu yang ‘baru’, dan ketradisional sebagai sesuatu yang ‘lama’, namun bukan sesuatu yang ‘usang’. Pergulatan antara keduanya yang sangat dialektis justru akan memberi ‘ruh’ baru bagi dinamika berislam kita, sebab Islam bukanlah sesuatu yang ‘selesai’. Islam adalah sebuah dynamic movement.
Dalam meningkahi isu modernisasi pada pembenahan sistem pendidikan Islam, langkah paling bijak adalah menengok ke ‘dalam’ khazanah intelektual dan historis pembelajaran yang dilakukan oleh komunitas muslim berabad-abad, dan secara signifikan berkontribusi bagi peradaban dunia. Artinya, mengejar kemoderenan semata adalah bentuk ‘rendah diri’ yang berkepanjangan. Sedangkan bertahan dengan ketradisionalan sama artinya menyerahkan hidup pasrah kepada waktu dan siap menjadi fosil. Begitu saja.
IBNU KHALDUN
1. Biografi
Nama lengkapnya adalah Waliu al-Din ‘Abdul ar-Rahman ibn Muhammad ibn Hasan ibn al-jabir ibn Muhammad ibn Ibrahimibn Abdurahman ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. Ibnu Khaldun adalah seseorang yang sejak kecil haus akan ilmu pengetahuan, selalu tidak puas dengan ilmu yang telah diperolehnya, sehingga memungkinkan beliau mempunyai banyak guru yang telah mengajarinya. Ibnu Khaldun dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.
Leluhur Ibnu khaldun berasal dari hadarmaut, Yaman yang hijrah ke Spanyol pada abad ke delapan bersamaan dengan gelombang penaklukan Islam di Semenanjung Andalusia. Wafi menguraikan silsilah leluhur Ibnu Khaldun berasal dari seorang sahabat Nabi, bernama Wail bih Hujr. Sejak kecil beliau telah mendapat didikan langsung dari orang tuanya untuk mempelajari dasar-dasar pemahaman Al-quran dan dilanjutkan kepada seorang yang ahli dalam Al-quran, bernama Syeikh Abu Abdillah Muhammad bin Said Al-Anshary.
Ayah Ibnu Khaldun seorang ulama yang ahli dalam ilmu agama. Banyak diantara keturunannya menjadi ulama terkemuka di Magribi dan Andalusia. Di antaranya ialah Umar bin Khaldun,yang terkenal dalam ilmu matematika.
Hampir Sepanjang hidupnya, beliau dedikasikan untuk menekuni ilmu pengetahuan. Tidak sedikit guru-guru yang telah beliau timba ilmunya, antara lain: Syaikh Abu Abdillah bin Al-Araby Al-Hashoyiri, Abu Abdillah Muhammad bin Asy-Syawas Az-Zarzaly, Abu Al-Abbas Ahmad bin Al-Qashar, dan Abu Abdillah Muhammad bin Bahr, mereka semua merupakan guru-guru yang mengajarkan bahasa Arab. Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes,
Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah. Dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini. Nama dan karyanya harum dan dikenal di berbagai penjuru dunia. Panjang sekali jika kita berbicara tentang biografi Ibnu Khaldun, namun ada tiga periode yang bisa kita ingat kembali dalam perjalan hidup beliau. Periode pertama, masa dimana Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Alquran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika.
Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.
Proses belajar yang panjang dan melelahkan telah beliau jalani telah berusia 20 tahun, dengan ditandai berbagai ijazah tadris dari para gurunya. Buah dari itu semua bisa kita saksikan dari karya tulis beliau yang sangat fundamental dan monumental, yang berjudul sangat panjang yaitu “Al-Ibrar wa Diwan Al-Mubtada wa Al-Khabar fi Ayyam Al-Araby wa Al-Ajam wa Al-Barbar wa Man Asrahun min Zawi AS-Sulthan Al-Akbar.
Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes,
Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah. Dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini. Nama dan karyanya harum dan dikenal di berbagai penjuru dunia. Panjang sekali jika kita berbicara tentang biografi Ibnu Khaldun, namun ada tiga periode yang bisa kita ingat kembali dalam perjalan hidup beliau. Periode pertama, masa dimana Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Alquran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika.
Dalam semua bidang studinya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya. Namun studinya terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan Afrika pada tahun 749 H. yang merenggut ribuan nyawa. Ayahnya dan sebagian besar gurunya meninggal dunia. Ia pun berhijrah ke Maroko selanjutnya ke Mesir; Periode kedua, ia terjun dalam dunia politik dan sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga dijebloskan ke dalam penjara.
Setelah keluar dari penjara, dimulailah periode ketiga kehidupan Ibnu Khaldun, yaitu berkonsentrasi pada bidang penelitian dan penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannyayang telah lama dibuatnya. Seperti kitab al-’ibar (tujuh jilid) yang telah ia revisi dan ditambahnya bab-bab baru di dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar.
Kitab al-i’bar ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Namun pengaruhnya baru terlihat setelah 27 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1890, yakni saat pendapat-pendapat Ibnu Khaldun dikaji
dan diadaptasi oleh sosiolog-sosiolog German danAustria yang memberikan pencerahan bagi para sosiolog modern.
Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya, at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis); Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi,yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).
DR. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of
Aberdeen, Scotland dalam artikelnya “The Islamic Review & Arabic Affairs” di tahun 1970-an mengomentari tentang karya-karya Ibnu Khaldun. Ia menyatakan, “Tulisan-tulisan sosial dan sejarahdari Ibnu Khaldun hanya satu-satunya dari tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia Barat, terutama ahli-ahli sosiologi dalam bahasa Inggris (yang menulis karya-karyanya dalam bahasa Inggris).” Salah satu tulisan yang sangat menonjol dan populer adalah muqaddimah (pendahuluan) yang merupakan buku terpenting tentang ilmu sosial dan masih terus dikaji hingga saat ini.
Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan ‘gejala-gejala sosial’ dengan metoda-metodanya yang masuk akal yang dapat kita lihat bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala sosial tersebut. Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejalayang membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat moderen dan bagaimana sistem pemerintahan dan urusan politik di masyarakat.
Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara)yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul oleh generasi ke dua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuhyang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya.
Ada beberapa catatan penting dari sini yang dapat kita ambil bahan pelajaran. Bahwa Ibnu Khaldun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tidak meremehkan akan sebuah sejarah. Ia adalah seorang penelitiyang tak kenal lelah dengan dasar ilmu dan pengetahuan yang luas. Ia selalu memperhatikan akan komunitas-komunitas masyarakat. Selain seorang pejabat penting, ia pun seorang penulis yang produktif. Ia menghargai akan tulisan-tulisannya yang telah ia buat. Bahkan ketidaksempurnaan dalam tulisannya ia lengkapi dan perbaharui dengan memerlukan waktu dan kesabaran. Sehingga karyanya benar-benar berkualitas,yang di adaptasi oleh situasi dan kondisi.
Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agamayang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam . Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmuyang lain.”
Jadi, nilai-nilai spiritual sangat di utamakan sekali dalam kajiannya, disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya. Kehancuran suatu negara, masyarakat, atau pun secara individu dapat disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai spritual. Pendidikan agama sangatlah penting sekali sebagai dasar untuk menjadikan insanyang beriman dan bertakwa untuk kemaslahatan umat. Itulah kunci keberhasilan
Ibnu Khaldun, ia wafat di Kairo Mesir pada saat bulan suci Ramadan tepatnya pada tanggal 25 Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M.
B. Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun telah meletakan prinsip-prinsip proses belajar mengajar sebagai sesuatu hal yang sangat mendasar dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswa. Prinsip-prinsip tersebut secara garis besarnya meliputi beberapa hal sebagai berikut.
a. Adanya penahapan dan pengulangan secara berproses, yang harus disesuaikan dengan kemampuan siswa dan tema-tema yang diajarkan secara bersamaan. Sseorang guru hendaknya memberikan pemahaman secara bertahap mengenai masalah yang terdapat dalam setiap bab, tanpa memberikan keterangan yang rinci dan tanpa memberikan prioritas, tetapi dengan memperhatian kemampuan dan daya serap siswa dari pemahaman yang diterimanya.
b. Tidak membebani pikiran siswa. Dalam masalah ini Ibnu Khaldun menyatakan, bahwa pemikiran manusia tumbuh dan berkembang secara berproses (bertahap).
c. Tidak pindah dari satu materi ke materi lain sebelum siswa memahaminya secara utuh. Dalam hal ini, Ibnu Khaldun menegaskan bahwa dalam proses belajar mengajar seorang siswa merupakan objek, seorang guru tidak dianjurkan berpindah pada materi yang baru sebelum ia yakin bahwa siswanya telah paha terhadap materi yang lalu.
d. Lupa merupakan hal biasa dalam belajar,solusinya adalah dengan sering mengulang dan mempelajarinya kembali. Ibnu Khaldun dengan prinsip belajar menajarnya, menghendaki agar seorang guru juga memperhatikan terhadap proses pendidikan potansi yang dimiliki seorang siswa.
e. Tidak bertindak keras terhadap siswa. Menirut Ibnu Khaldun, tindakan keras atau kasar terhadap siswa dapat menyebabkan munculnya sikap rendah, dan mendorong seseorang memilikiprilaku dan kebiasaan buruk. Menurutnya siapa pun yang mendidik dengan proses kekerasan dan pemaksaan, baik kepada siswa, maupun pembantu atau budak maka pemaksaan yang ditunjukannya akan mengakibatkan seseorang mempunyai sifat dusta dan bueuk, sehingga membuat seseorang memiliki ruang gerak yang sempit.
Demikianlah prinsip-prinsip dasar proses belajar mengajar yang dikemukakan ibnu kaldun, yang seyogyanya selalu diperhatikan oleh setiap gurudalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan rujukan bagi setiap pendidik dalam melaksanakan tugasnya.
Pokok-pokok pikiran yang telah dikemukakan oleh Ibnu Khaldun sungguh sangat brilliant, dimana tokoh-tokoh lain belum sampai pada kajian ini, beliau dengan sangat yakin menjelaskan pemikirannya.
Pokokpikiran pertama misalnya, tentang proses pengajaran bertahap dan pengulangan sesuai dengan kemampuan siswa. Pada proses pertama, guru hendaknya memberikan keterangan secara terperinci sesuai dengan kemampuan siswa. Proses kedua, dengan cara memberikan penjelasan yang sesuai dengan beberapa keterangan pada tema yang terkait. Selanjutnya, proses ketiga, menghindari pejelasan yang umum dan global serta tidak meninggalkan hal-hal yang sulit.
Pada proses ini, Ibnu Khaldun, hendak menjadikan siswa tersebut menguasai materi tertentu sebelum materi lain diberikan. Hal ini, barangkali, memegang prinsip’ sedikit tetapi paham”. Pada kondisi sekarang pengulangan yang terlalu lama pada satu tema tertentu dapat memekan waktu dan juga tentunya biaya pendidikan menjadi lebih besar. Proses belajar mengajar oleh Ibnu Kaldun lebih berpust pada teacher center, bukan pada siswa aktif. Jadi, peran guru memang sangat dituntut untuk memberikan pelajaran yang paripurna, peran guru tidak hanya sebatas ‘mediator”, naming juga sebagai “executor” yang menentukan berhasil tidaknya belajar anak didik tersebut.
Sama halnya pada pokok pikiran kedua, tidak bertindak keras atau kasar terhadap siswa. Prinsip ini sangat relevan sekali dengan kondisi sat ini . bukan lagi model pembelajaran “ colonial” yang menghendaki kekerasan dan disiplin yang ketat, seperti pada zaman penjajahan . Setiap siswa harus mengikutiapa yang diperintahkan olah guru, sekalipun perintah tersebut tidak ada relevansinya dengan pelajaran disekolah. Misalnya, siswa diminta untuk melakukan baris-berbaris, menahan jarak, mengumpulkan batu, dan lain sebagainya. Siswa yang terlambat, dan tidak menuruti perintah mendapat hukuman yang berat, dan sebagainya. Kondisi saat ini menghendaki adanya rasa lembut dan kasih saying. Siswa merupakan jiwa yang harus diarahkan dengan penuh kelembutan agar mendapatkan nilai kelulusan yang jujur, cerdas dan arif bijaksana, bukan siswa yang malas, culas. Penuh tipu daya, dan rasa pertentangan atau kontrdiksi terhadap apa yang diberikan pengajarnya.
C. Karya-karya Ibnu Khaldun
Karya terbesar Ibnu Khaldun adalah al-I’bar nama lengkapnya ”Al ‘Ibar wal Diwan Al- Mubtada’wa alKnabar fi-ayyam al-Arab wa al-badar wa man sarahum min zawi al-sultan al-akbar” (luku al-ibar dan rekaman asal usul dan peristiwa hari-hari bangsa arab, Barbar dan orang-orang yang sezaman dengan mereka yang memiliki kekuasaan bbesar).
Karya yang paling terknal dari dulu sampai sekarang adalah al-muqadimah atau mukaddimah Ibnu Khaldun. Buku ini pada mulanya merupakan pengantar dari buku al-‘Ibar. Namun karena begitu pentingnya, akhirnya diisahkan dari karya induknya menjadi satu karya tersendiri. Naskah muqaddimah dalam bentuk yang pertama, disamping bagian-bagiannya dari al-‘Ibar, dihadiahkan oleh Ibnu Khaldun kepada Sultan Abu Al-Abbas (sultan Tunisia) pada tahun 784 H. Setelah itu ia merevisinya dan melengkapinya dengan berbagai pasal yang beum ada sebelumnya, dan menulis kembali sebagian pasalnya. Karya ini disamping bagian-bagian lain dari alIbar, ia tulis dalam dua naskah. Salah satu naskah tersebut dihadiahkan kepada al-Zahir Barquq, Sultan Mesir. Sedangkan naskah yang satunya lagi ia hadiahkan kepada sultan Fariz Abdul Aziz, Sultan Magrib jauh sekitar tahun 799 H Naskah yang terakhir ini kemudian menjadi rujukan kebanyakan naskah-naskah yang ada di berbagai perpustakaan di Eropa. Naskah ini juga sekali lagi di revisi Ibnu Khaldun. Hasil revisi ini pula cetakan Paris diruju’kan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment