Friday, February 19, 2010

malas enyahlah kau

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.”
(QS An Nisaa’[4]: 142).

Inilah penghancur kreativitas. Sifat malas. Sebuah penyakit yang benar-benar harus dihindari oleh setiap Muslim yang berakal. Sifat yang harus diruntuhkan dan diganti dengan motivasi tinggi. Kemalasan adalah musuh terbesar yang harus dikalahkan.

Siapapun yang memiliki sifat ini, celakalah ia. Karena telah terperangkap ke jurang yang dalam lagi kelam. Kita harus berhati-hati terhadap sifat buruk yang satu ini.

Para nabi telah berlindung kepada Allah SWT dari sifat malas. Orang yang tahu bahaya sifat ini akan mengusirnya jauh-jauh, orang-orang yang berakal akan menjadikan sifat ini sebagai musuh terbesarnya.
Nabi SAW bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku belindung kepada-Mu dari kegelisahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, berhati pengecut, kikir, utang yang tak terbayarkan dan tekanan kezhaliman orang lain.” (H.R. Bukhari, Abu Dawud, an-Nasai, Tirmidzi dan Ahmad)

Nabi yang ma’shum pun berlindung dari sifat malas. Apalagi kita sebagai manusia biasa yang terkadang lalai. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan sifat ini. Jika penyakit ini sudah menyerang, maka ia bagaikan wabah yang mematikan dan melumpuhkan potensi dan prestasi.

Malas adalah penyakit orang-orang yang hina. Jika kita tidak ingin masuk kategori orang hina, maka kita harus menjauhi sejauh mungkin sifat buruk ini. Kemalasan bukanlah untuk kita, pribadi Muslim yang bercita-cita luhur dalam hidupnya.

Kemalasan adalah milik mereka yang tidak mau berubah menjadi lebih baik, kepada merekalah layak dipersembahkan. Kemalasan bukan untuk kita, orang-orang yang bersemangat membara dalam mengarungi arus deras kehidupan, yang berani berkata:

“Hidup bukan untuk bermalas-malasan, akan tetapi untuk meraih kesuksesan, prestasi dan kemuliaan hakiki.”

Muhammad Ibnu Sarrar al-Yami berkata dalam bukunya Shina’ah al-Tamayyuz, “Kemalasan akan mengantarkan Anda pada kesia-siaan. Kunci kegagalan adalah kemalasan. Untuk mengukir prestasi, harus dimulai dengan menyusun rancang bangun tujuan hidup yang baik dan benar. Dan menjadikan petunjuk Agama sebagai jalan untuk merealisasikannya. Tidak akan pernah sukses orang yang hidup di alam ide dan alam mimpi, selama tidak bangun dari tidurnya, dan menyalakan lilin kesungguhan tekad di dunia yang gelap gulita.”

Ada sebuah pesan berharga dari Imam Ibnul Jauzy, “Hari-hari adalah lembaran baru untuk goresan amal perbuatan. Jadikanlah hari-harimu sarat dengan amalan yang terbaik. Kesempatan itu akan segera lenyap secepat perjalanan awan, dan menunda-nunda pekerjaan tanda orang yang merugi. Dan barangsiapa bersampan kemalasan, ia akan tenggelam bersamanya.”

Walaupun kita punya segudang kemampuan dan keahlian, tetapi ketika malas datang, kemampuan dan keahlian itupun akan hilang seketika.

Rasa malas jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah menumbuhkan kebiasaan mendisiplinkan diri dan menjaga kebiasaan positif. Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau kita ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas. Sebaiknya, kita harus malas memiliki sifat malas. dikutip dari note seorang teman tp lupa namaya
Assalamu'alaikum